Skip to content

Jawaban dari Paradoks Batu – Kemahakuasaan Tuhan

Reading Time: 2 minutes

Paradoks batu berbunyi “Bisakah sesuatu yang maha kuasa menciptakan batu yang sangat berat hingga ia tak mampu mengangkatnya”. Kata “Sesuatu” yang maha kuasa dalam paradoks ini sering diganti dengan kata “Tuhan”, sehingga bunyi paradoks ini menjadi “Bisakah Tuhan yang maha kuasa menciptakan batu yang sangat berat hingga ia tak mampu mengangkatnya”. Jawaban untuk paradoks batu yang memakai kata “sesuatu” dan yang memakai kata “Tuhan” jawabannya beda. Dalam tulisan ini saya hanya akan membahas jawaban dari paradoks batu yang memakai kata “Tuhan”. Jawaban inti dari paradoks batu yang memakai kata “Tuhan” tersebut saya dapat dari seorang member di sebuah forum diskusi.

Hanya ada dua kemungkinan jawaban dari paradoks tersebut, yaitu “Ya” dan “Tidak”. Sekarang kita uji dua kemungkinan tersebut. Jika kita menjawab “Ya”, bisa dikatakan kita telah mengatakan Tuhan itu bisa menjadi tidak maha kuasa karena setelah membuat batu tersebut Tuhan tidak akan bisa mengangkatnya. Jika kita memilih “Tidak”, bisa dikatakan kita mengatakan Tuhan tidak maha kuasa karena ada yang tidak bisa dilakukannya.

Untuk menjawab paradoks ini, kita harus mendefinisikan sifat “Maha Kuasa” Tuhan terlebih dahulu. Jika kita mendefinisikan “Maha Kuasa” Tuhan adalah Tuhan bisa melakukan segalanya, maka kita akan terjebak dengan paradoks batu ini. Menurut saya definisi “Maha Kuasa” Tuhan adalah Tuhan bisa melakukan segalanya tetapi dibatasi oleh sifat-sifatnya.

Jika timbul sanggahan, kalau dibatasi berarti Tuhan tidak maha kuasa. Justru harus dibatasi agar tidak ada celah supaya tidak berubah menjadi tidak maha kuasa. Saya tidak mau punya Tuhan yang ada kemungkinan untuk menjadi tidak maha kuasa. Saya beri contoh dengan contoh sifat Tuhan yang lain selain maha kuasa.

Tuhan itu maha penyayang, Tuhan tidak bisa menjadi tidak maha penyayang(maha jahat). Ini bisa diterima, saya tidak mau punya Tuhan yang suatu saat bisa menjadi maha jahat.

Contoh yang lain, Tuhan itu maha penyayang, tetapi kenapa ada manusia yang disiksa di neraka?. Jawabannya adalah Tuhan memang maha penyayang, tetapi maha penyayangnya Tuhan dibatasi oleh sifat maha adil.

Langkah selanjutnya untuk menjawab paradoks ini adalah kita harus tahu bahwa paradoks ini tidak bisa dijawab dengan jawaban “Ya” dan “Tidak”. Perlu jawaban tambahan untuk melengkapinya agar kita tidak terjebak. Jawaban tambahan ini adalah pembatasan kemahakuasaan Tuhan oleh sifat-sifatnya.

Jawaban “Ya” tidak mungkin saya terima, karena saya tidak mau punya Tuhan yang bisa berubah menjadi tidak maha kuasa.

Jadi jawaban yang masuk akal adalah “Tidak”, Tuhan tidak bisa membuat batu yang tidak bisa dia angkat. Kemudian jawaban ini harus kita lengkapi dengan jawaban tambahan agar bisa menjawab sanggahan “Berarti Tuhan tidak maha kuasa karena ada yang tidak bisa dilakukannya”. Jawaban tambahan itu adalah “Tuhan itu maha kuasa, tetapi kemahakuasaan Tuhan dibatasi oleh sifat-sifatnya”. Dalam hal ini, sifat Tuhan yang membatasinya adalah sifat “Yang Maha Kuasa” itu sendiri. Karena dibatasi oleh sifat “Yang Maha Kuasa”, maka Tuhan tidak bisa menjadi “Tidak Maha Kuasa”. Saya tidak mau punya Tuhan yang ada kemungkinan menjadi tidak maha kuasa.

Published inTeologi

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan

    WhatsApp chat