Skip to content

Bagaimana Cara Seorang Programmer Mengantisipasi Agar Sendal Jepitnya Tidak Hilang atau Tertukar di Masjid?

Reading Time: 4 minutes
Programmer menggembok sendal
Foto ini diambil oleh kamera Asep Lesmana teman kantor saya

Saya adalah tipe orang yang menganggap benda-benda yang saya gunakan adalah teman bahkan sahabat saya. Misalnya laptop, HP dan sendal jepit. Laptop yang saya beli ketika kuliah sampai sekarang masih ada dan berfungsi dengan baik. Saya pernah menolak tawaran ua saya untuk menjual laptop saya pada anaknya. Saya menolaknya karena saya menghormati laptop saya yang sudah menemani saya selama masa kuliah. Untuk HP, saya tidak akan pernah mengganti HP saya kecuali HP tersebut sudah tidak bisa berfungsi lagi. Begitu juga dengan sendal jepit, saya tidak akan pernah mengganti sendal jepit saya, kecuali sendal itu hilang atau rusak sehingga tidak bisa dipakai lagi.

Khusus untuk sendal jepit. Saya sering kehilangan dia ketika pulang dari masjid. Entah itu tidak sengaja tertukar atau memang sengaja ditukar. Bukan masalah harganya, tapi saya sudah menganggap “dia” sebagai sahabat saya. Saya tidak mau kehilangan “dia”. Ketika saya kehilangan “dia” saya tidak mau menggantikan “dia” dengan memakai sendal jepit milik orang lain, saya lebih memilih untuk tidak memakai sendal ketika pulang.

Dulu, setelah mengalami lumayan banyak kehilangan sendal jepit, saya mendapat beberapa cara untuk mengantisipasinya. Ada yang merupakan ide sendiri, ada juga yang merupakan saran dari orang lain.

Menandainya dengan Tulisan “2+2=5”

Pada awalnya, saya merasa yakin dengan cara ini. Namun, ternyata tidak berhasil. Saya masih mengalami kehilangan setelah menggunakan cara ini. Ada beberapa skenario kenapa ini bisa terjadi.

  1. Dia mengambil sendal. Dia tidak menyadari ada tulisan “2+2=5”. Setelah dia pakai dia tetap tidak menyadari bahwa itu bukan sendal dia.
  2. Dia mengambil sendal. Dia tidak menyadari ada tulisan “2+2=5”. Setelah dia pakai, dia menyadari bahwa itu bukan sendal dia. Namun, dia tetap melanjutkan memakainya tanpa rasa bersalah.
  3. Dia mengambil sendal saya. Dia menyadari ada tulisan 2+2=5. Namun, dia tidak peduli. Kemudian dia memakai sendal saya tanpa rasa bersalah.
  4. Dari awal dia memang berniat menukar sendal miliknya. Dia mengambil sendal. Dia tidak menyadari ada tulisan 2+2=5. Kemudian dia memakainya tanpa rasa bersalah.
  5. Dari awal dia memang berniat menukar sendal miliknya. Dia mengambil sendal saya. Dia menyadari ada tulisan 2+2=5. Namun, dia tidak peduli. Kemudian dia memakainya tanpa rasa bersalah.

Menelungkupkan Posisinya Ketika Disimpan

Saya pernah mendapat usulan sebuah cara dari teman kantor saya yang bernama Dani. Dia bilang “Kieu, eungke deui mah coba neundeunna ditangkubkeun” Artinya kalau dalam bahasa Indonesia “Begini, nanti coba posisi menyimpannya ditelungkupkan”. Saya mencoba melakukan apa yang disarankan oleh teman saya dan mengkombinasikan dengan cara pertama. Namun, setelah saya mencoba cara ini, tetap saja saya masih mengalami kehilangan. Untuk Skenarionya tidak jauh berbeda dengan yang pertama.

  1. Dia mengambil kemudian membalikkan sendal. Dia tidak menyadari ada tulisan “2+2=5″(mungkin matanya sudah rusak). Setelah dia pakai dia tetap tidak menyadari bahwa itu bukan sendal dia.
  2. Dia mengambil kemudian membalikkan sendal. Dia tidak menyadari ada tulisan “2+2=5″(mungkin matanya sudah rusak). Setelah dia pakai, dia menyadari bahwa itu bukan sendal dia. Namun, dia tetap melanjutkan memakainya tanpa rasa bersalah.
  3. Dia mengambil kemudian membalikkan sendal. Dia menyadari ada tulisan 2+2=5. Namun, dia tidak peduli. Kemudian dia memakai sendal saya tanpa rasa bersalah.
  4. Dari awal dia memang berniat menukar sendal miliknya. Dia mengambil kemudian membalikkan sendal. Dia tidak menyadari ada tulisan 2+2=5 (mungkin matanya sudah rusak). Kemudian dia memakainya tanpa rasa bersalah.
  5. Dari awal dia memang berniat menukar sendal miliknya. Dia mengambil kemudian membalikkan sendal. Dia menyadari ada tulisan 2+2=5. Namun, dia tidak peduli. Kemudian dia memakainya tanpa rasa bersalah.

Memakai Sendal yang Berlainan Warna antara Kiri dan Kanan

Untuk cara ini, saya dapatkan dari teman kantor saya yang bernama Dadan. Dia memang sudah terbiasa menggunakan sendal jepit yang berbeda warna antara kiri dan kanan. Mungkin awalnya untuk mengantisipasi kehilangan sendal jepit di masjid seperti saya.

Untuk ide ini saya belum pernah melakukannya karena saya tidak terlalu suka untuk memakai sendal jepit yang berbeda warna antara yang kiri dan kanan.

Mengikat Sendal Kiri dan Kanan dengan Kawat Kecil

Saya pernah mendapat usulan cara dari ayah saya. Dia menyarankan agar saya mengikat sendal kiri dan kanan dengan kawat kecil agar orang yang memakainya nanti terjatuh. Namun, cara ini tidak saya pakai karena kasihan. Walaupun saya kesel, saya orangnya tidak tega kalau memakai cara seperti itu.

Memakai Gembok dan Mengikatnya dengan Rante ke Tiang Masjid

Saya menyadari bahwa ini adalah cara yang ekstrim, tetapi pada saat itu saya sudah sangat kesal. Awalnya, saya hanya punya ide untuk menggembok sendal saya. Kemudian teman kantor saya yang bernama Asep, menyarankan ide tambahan untuk menggunakan rante yang nantinya diikatkan ke tiang masjid yang di luar. Untuk ide yang disarankan oleh teman saya, saya belum melakukannya. Namun, untuk menggemboknya saya sudah pernah melakukannya. Coba lihat gambar di awal postingan. Itu adalah foto saya ketika menggembok sendal saya sebelum masuk masjid.

Memisahkan Penyimpanan Sendal Kiri dan Kanan

Setelah melakukan penggembokkan pada sendal saya. Saya merasa cara itu terlalu mencolok. Pada saat itu banyak orang yang senyum-senyum kecil melihat saya melakukan itu. Kemudian saya melakukan tapa dan mendapatkan ide brilian, yaitu memisahkan penyimpanan sendal kiri dan kanan. Kalau di masjidnya ada rak tempat menyimpan sendal, saya menyimpan sendal kiri dan kanan di rak yang berbeda. Kalau di masjidnya tidak ada rak tempat menyimpan sendal. Di teras sebelum masuk masjid, saya meletakkan sendal kiri dan kanan berjauhan. Alhamdulillah setelah cara itu dilakukan, saya belum kehilangan sendal lagi.

Saya pernah mau pulang ke Bandung ketika sedang di Tulungagung karena saya kehilangan sendal jepit saya. Mungkin bagi kalian manusia-manusia normal, ini adalah hal yang berlebihan. Sekali lagi saya tegaskan. Ini bukan masalah harga sendal jepit. Harga sendal jepit memang tidak mahal dan saya sanggup untuk membelinya lagi. Masalahnya adalah, saya menganggap sendal jepit saya adalah sahabat saya. Saya tidak mau kehilangannya.

Bagikan artikel

Published inPengalaman

7 Comments

  1. OM OM

    Wow ๐Ÿ˜ cuma bsa blng wow kang bro hohoho

    • admin admin

      Kenapa wow om? hahahahaha

      • OM OM

        Wow az lah sangking speechlessx ๐Ÿ˜‚

  2. Hanny Hanny

    Kok jadi ngakak abis bacanya yaaa haha

    • admin admin

      Kari ngakak we atuh teh. Hmmm

  3. Herlina Wulandari Herlina Wulandari

    ๐Ÿคฃ maenya we kudu pasirang seorang sendalna

    • admin admin

      Babaturan abi sok sisirangan teh. Tekhnik eta teh, meh teu leungit.

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat